Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus 25, 2020

POST TERBARU

HAKIKAT MANUSIA DALAM DAKWAH

(Filsafat Dakwah) Oleh : Abidah Khoirun Nizami Dalam kajian Filsafat Dakwah, pemahaman tentang hakikat manusia menjadi fondasi yang sangat penting. Dakwah bukan sekadar proses penyampaian pesan keagamaan, melainkan interaksi yang melibatkan subjek (da’i) dan objek (mad’u) yang sama-sama manusia. Oleh karena itu, memahami siapa manusia, bagaimana potensi dan keterbatasannya, serta bagaimana dinamika batinnya, menjadi kunci keberhasilan dakwah itu sendiri. Secara filosofis, manusia adalah makhluk multidimensional. Ia tidak hanya terdiri dari aspek fisik, tetapi juga memiliki dimensi akal, hati, dan ruh. Dalam perspektif Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi kebaikan (fitrah), namun juga memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Dualitas ini menunjukkan bahwa manusia bukan makhluk yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk, melainkan makhluk yang terus berada dalam proses menjadi. Inilah yang menjadikan dakwah relevan: sebagai upaya mengarahkan potensi man...

HUJAN DAN SENJA (3)

  Senja : Hujan, jangan pergi yaa   Hujan : Aku pergi sebentar senja  Senja : Aku masih rindu (sambil meluk)  Hujan : Aku harus berangkat senja, sudah banyak yang menanti Senja : Awas ada yang ketinggalan  Hujan : Apa?  Senja : . -meringis sembari mencium hujan- 

HUJAN DAN SENJA (2)

  Hujan : Kenapa terus melihatku dari tadi? Senja : Aku nggak sedang melihatmu. Hujan : Bohong. Senja : Aku sedang menatapmu, bukan sekadar melihatmu, aku sedang menggugurkan rinduku. Hujan : Curang Senja : Kenapa? Hujan : Bisakah aku juga diberi kesempatan menatapmu? Bisakah rinduku juga digugurkan? Senja : Jadi, kamu rindu aku? Hujan : Menurutmu? Senja : Akhirnya kamu mau bilang rindu, tidak gengsi. Hujan : Senja, jangan meledek terus. Senja : *tertawa sembari memeluk hujan*

HUJAN DAN SENJA

  Hujan : Senja keahlian kita apa ya? Senja : Mencuri Hujan : Hah ? Senja : Iya, kamu mencuri tempat dihatiku, dan aku mencuri celah udara untuk bisa terus menatap senyummu Hujan : Selalu begitu, tidak bisakah lebih serius? Senja : Bukankah terhadapmu aku selalu serius ?