Di banyak ruang pendidikan, ketaatan sering diajarkan sebagai nilai utama. Menghormati guru, mendengar tanpa membantah, dan percaya tanpa ragu. Nilai-nilai itu, pada dasarnya, tidak salah. Namun, dalam kondisi tertentu, ketaatan bisa berubah menjadi sesuatu yang lain sesuatu yang tidak lagi melindungi, tetapi justru melukai. Kasus yang belakangan muncul di sebuah Pondok Pesantren di Pati, menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana. Bagaimana mungkin ruang yang dibangun atas dasar kepercayaan, justru menjadi tempat terjadinya pelanggaran? Di sinilah kita mulai melihat bahwa ketaatan, ketika tidak diiringi dengan kesadaran dan batas, dapat berubah menjadi ketundukan yang berisiko. Bagi sebagian korban, posisi mereka tidak memungkinkan untuk menolak. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak memiliki ruang untuk berkata tidak. Dalam kajian sosial, kondisi ini dikenal sebagai power imbalance atau disebut ketimpangan antara pihak yang memiliki otoritas dan pihak yang bergantung padanya...
(Filsafat Dakwah) Oleh : Abidah Khoirun Nizami Dalam kajian Filsafat Dakwah, pemahaman tentang hakikat manusia menjadi fondasi yang sangat penting. Dakwah bukan sekadar proses penyampaian pesan keagamaan, melainkan interaksi yang melibatkan subjek (da’i) dan objek (mad’u) yang sama-sama manusia. Oleh karena itu, memahami siapa manusia, bagaimana potensi dan keterbatasannya, serta bagaimana dinamika batinnya, menjadi kunci keberhasilan dakwah itu sendiri. Secara filosofis, manusia adalah makhluk multidimensional. Ia tidak hanya terdiri dari aspek fisik, tetapi juga memiliki dimensi akal, hati, dan ruh. Dalam perspektif Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki potensi kebaikan (fitrah), namun juga memiliki kecenderungan untuk melakukan kesalahan. Dualitas ini menunjukkan bahwa manusia bukan makhluk yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk, melainkan makhluk yang terus berada dalam proses menjadi. Inilah yang menjadikan dakwah relevan: sebagai upaya mengarahkan potensi man...