Langsung ke konten utama

'HAI'...



'Hai'
Adalah kata yang sederhana
Namun amat sangat aku nanti,
Entahlah mengapa?
Begitu berharganya 3 huruf itu..
Aku rasa bisa menjadi pembuka manis diwal percakapan kita..

Sampai saat ini,,
Tulisan-tulisanku tak membuahkan hasil..
Hasil yang dimana ku harap kau akan membaca tulisanku..
Kemudian menyapaku..

Ah , sudahlah
Aku tak ingin lagi berharap seperti itu
Menunggu notif dipesanku
Menunggu setiap tulisan-tulisan konyolku kau baca,
Dan..
Menunggu salam sapa darimu..

Padahal yang aku tahuu
Kita tidak satu kontek bukan??
Lalu untuk apa aku berharap notif itu akan sampai di handphoneku??
Dan lagi-lagi aku harus menyabarkan hati..

Bersabarlah wahai hati yang merindu..
Memang ini belum saatnya
Percayalah ada rencana baik yang belum Allah tunjukkan padamu..
Yang saat ini masih tersimpan rapih
Dalam kotak rahasia-Nya..
Wahai hati..
Bukankah semua akan Indah pada waktunya?

Dan pada akhirnya..
Aku hanya perlu menyampaikan
Apa yang ingin aku sampaikan..
Melalui sebuah Do'a..

Tidak ada yang perlu dikuatirkan lagi
Karena aku yakin..
Lewat do'a ini engkau akan terjaga baik..
Karena Allah selalu bersamamu

Dawarblandong, 21 Januari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Ketaatan dan Luka

Di banyak ruang pendidikan, ketaatan sering diajarkan sebagai nilai utama. Menghormati guru, mendengar tanpa membantah, dan percaya tanpa ragu. Nilai-nilai itu, pada dasarnya, tidak salah. Namun, dalam kondisi tertentu, ketaatan bisa berubah menjadi sesuatu yang lain sesuatu yang tidak lagi melindungi, tetapi justru melukai. Kasus yang belakangan muncul di sebuah Pondok Pesantren di Pati, menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana. Bagaimana mungkin ruang yang dibangun atas dasar kepercayaan, justru menjadi tempat terjadinya pelanggaran? Di sinilah kita mulai melihat bahwa ketaatan, ketika tidak diiringi dengan kesadaran dan batas, dapat berubah menjadi ketundukan yang berisiko. Bagi sebagian korban, posisi mereka tidak memungkinkan untuk menolak. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak memiliki ruang untuk berkata tidak. Dalam kajian sosial, kondisi ini dikenal sebagai power imbalance atau disebut ketimpangan antara pihak yang memiliki otoritas dan pihak yang bergantung padanya...

HUJAN DAN SENJA (2)

  Hujan : Kenapa terus melihatku dari tadi? Senja : Aku nggak sedang melihatmu. Hujan : Bohong. Senja : Aku sedang menatapmu, bukan sekadar melihatmu, aku sedang menggugurkan rinduku. Hujan : Curang Senja : Kenapa? Hujan : Bisakah aku juga diberi kesempatan menatapmu? Bisakah rinduku juga digugurkan? Senja : Jadi, kamu rindu aku? Hujan : Menurutmu? Senja : Akhirnya kamu mau bilang rindu, tidak gengsi. Hujan : Senja, jangan meledek terus. Senja : *tertawa sembari memeluk hujan*
"Hidup mengalir seperti sungai & berirama ibarat  lagu . Naik turunnya hidup sama seperti not-not pada setiap lagu. Not-not hidup itu akan  menjadikan kehidupan selalu hidup dan bermakna ."