Langsung ke konten utama

PELAKSANAAN PELATIHAN DAKWAH



A.    Tahapan Pelaksanaan Pelatihan Dakwah
Setelah diadakan check ini peserta, pembagian bahan-bahan dan penempatan penginapan peserta, maka kegiatan pelaksanaan pelatihan dimulai. Diawali dengan pembukaan, proses dan penutupan.
1.      Pembukaan : mengawali pelaksanaan
2.      Proses belajar dalam pelatihan
3.      Penutupan

B.     Memantapkan Persiapan Belajar
Selama pelaksanaan pelatihan diperlukan kesiapan dan kesediaan pihak penyelenggara untuk mengadakan penyesuaian bila memang perlu. Agar dapat diadakan penyesuaian yang tepat dan dilakukan pada waktu yang tepat juga. Untuk itu hendaknya ada upaya penyesuaian yang dapat dilakukan.

C.    Mencermati Materi Pelatihan Dakwah
Materi pelatihan dakwah merupakan jawaban dari masalah yang diahadapi para peserta. Oleh karena itu, materi pelatihan dakwah erat kaitannya dengan tujuan yang ingin dicapai dari kegiatan pelatihan dakwah tersebut.
Tujuan pelatihan dakwah dijabarkan rinciannya ke dalam suatu kurikulum. Kurikulum dijabarkan lagi ke dalam silabi. Silabi dijabarkan lagi kedalam jadwal.

D.    Mencermati Pelatih dalam Pelatihan Dakwah
Seorang pelatih diharapkan yang memiliki kualitas diri. Diantara kualitas tersebut adalah : mampu memahami peserta belajar, mampu menempatkan iklim positif dalam proses belajar mengajar, mampu menampung pengetahuan dan bakat peserta, mampu meningkatkan teknik mengajar dan menfasilitasi proses belajar mengajar, mampu menghargai dan bersimpatik kepada mereka yang berusaha keras, mampu mencintai dan berkompeten dalam bidang studinya.

E.     Membangun Pelatihan Dakwah Efektif
Pelaksanaan pelatihan dapat dikatakan efektif apabila :
1.      Pelaksanaan pelatihan selaras dengan kebutuhan pserta pelatihan .
2.      Peserta pelatihan merasakan bahwa dengan mengikuti pelatihan, kebuthhan yang dirasakan terpenuhi
3.      Peserta tidak merasakan tekanan pada saat pelatihan
4.      Peserta dapat mengolah dan menyimpulkan sendiri isi pelatihan
5.      Praktis dalam penerapannya .



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Antara Ketaatan dan Luka

Di banyak ruang pendidikan, ketaatan sering diajarkan sebagai nilai utama. Menghormati guru, mendengar tanpa membantah, dan percaya tanpa ragu. Nilai-nilai itu, pada dasarnya, tidak salah. Namun, dalam kondisi tertentu, ketaatan bisa berubah menjadi sesuatu yang lain sesuatu yang tidak lagi melindungi, tetapi justru melukai. Kasus yang belakangan muncul di sebuah Pondok Pesantren di Pati, menghadirkan pertanyaan yang tidak sederhana. Bagaimana mungkin ruang yang dibangun atas dasar kepercayaan, justru menjadi tempat terjadinya pelanggaran? Di sinilah kita mulai melihat bahwa ketaatan, ketika tidak diiringi dengan kesadaran dan batas, dapat berubah menjadi ketundukan yang berisiko. Bagi sebagian korban, posisi mereka tidak memungkinkan untuk menolak. Bukan karena tidak tahu, tetapi karena tidak memiliki ruang untuk berkata tidak. Dalam kajian sosial, kondisi ini dikenal sebagai power imbalance atau disebut ketimpangan antara pihak yang memiliki otoritas dan pihak yang bergantung padanya...

HUJAN DAN SENJA (2)

  Hujan : Kenapa terus melihatku dari tadi? Senja : Aku nggak sedang melihatmu. Hujan : Bohong. Senja : Aku sedang menatapmu, bukan sekadar melihatmu, aku sedang menggugurkan rinduku. Hujan : Curang Senja : Kenapa? Hujan : Bisakah aku juga diberi kesempatan menatapmu? Bisakah rinduku juga digugurkan? Senja : Jadi, kamu rindu aku? Hujan : Menurutmu? Senja : Akhirnya kamu mau bilang rindu, tidak gengsi. Hujan : Senja, jangan meledek terus. Senja : *tertawa sembari memeluk hujan*
"Hidup mengalir seperti sungai & berirama ibarat  lagu . Naik turunnya hidup sama seperti not-not pada setiap lagu. Not-not hidup itu akan  menjadikan kehidupan selalu hidup dan bermakna ."